21 April 2021

Ketika Begenggek dan Uprok Berubah Jadi PSK

Ilustrasi

KIM Ronggolawe –  Bersyukurlah kita yang terlahir dan hidup di negara kepulauan Indonesia yang kental dengan berbagai macam budaya, bahasa serta adat istiadat kearifan lokal yang selalu dijunjung dan dipertahankan hingga kini.

Dalam kehidupan suku Jawa penggunaan tata bahasa sudah terkenal dengan kelembutan serta penggunaanya sesuai dengan tingkat dan kebutuhan lawan bahasa, ada yang lembut dan super halus namun juga tak jarang ungkapan makian kasar sering terlontarkan disaat tidak dapat mengendalikan kekesalan serta amarah yang sedang menguasai diri.

Namun, dalam penggunaan bahasa yang lembut dan sopan sebagai ciri khas budaya ketimuran dapat membuat semakin merjalalela dan kebobrokan tingkat asusila dalam bermasyarakat, dan terkadang malah sebuah kata – kata kasar yang dulunya mampu membuat penyandang predikat kata kasar tersebut berpikir ribuan kali untuk melakukan perbutan yang disebut dengan kata kasar, saat ini dengan perubahan kata lembut dan sopan akan membuat nyaman obyek tersebut dalam kehidupan sehari – hari karena tidak canggung lagi dengan ungkapan  atau istilah yang dulunya kasar karena kini berubah menjadi lembut dan sopan.

Jikalau dulu seorang wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) akan merasa malu dan risih menjalani profesinya dengan sebutan  Pelacur, Lonthe, Begenggek, Uprok, Sundel dan sebutan kasar lainya, sehingga dengan hukuman sosial  julukan yang diberikan oleh masyarakat ini akan mempersempit ruang gerak para PSK tersebut untuk mengembangkan aset yang terpendam dalam dirinya, sehingga mereka harus berpikir ulang untuk melakoni praktek prostitusi tersebut.

Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan sebutan Pelacur, Lonthe, Begenggek, Uprok, Sundel yang dulu familiar kini mengalami perubahan penyebutan dengan mengedapankan tindak kesopanan dengan alasan (mungkin) agar obyek dalam kata kasar tersebut tidak merasa malu atau merasa rendah diri dan munculah sebuah istilah Kupu – kupu malam, Ayam Kampus, Purel, atau Pekerja Seks komersial (PSK) sendiri.

Dengan Trademark yang baru dan super sopan ini otomatis akan membuat obyek ungkapan kasar tersebut tidak canggung lagi untuk melakoni profesinya, karena beban mental dalam keluarga maupun bersosial akan tertutupi dengan julukan yang penuh dengan kesopanan tersebut, jika dulu ada yang bertanya “ Kamu sekarang lagi kerja apa..??,”  sangat dapat dipastikan jawaban “ Saya Upruk, saya Begenggek,” tidak akan keluar dari bibir merahnya yang menggoda dan dapat dipastikan jawaban  ” eh.. anu saya kerja anu, wis lah gak usah dibahas pokok penak kerjaku,” itu mungkin yang akan keluar dari bibir seksinya.

Begitu juga dengan wanita yang berprofesi sebagai penjaga warung atau buka usaha warung, pasti akan dicap negatif oleh masyarakat meskipun penjaga warung tersebut tidak se negatif prasangka orang lain, namun ini sudah menjadi hukum sosial bermasyarakat jika wanita Warugan tersebut diklaim sebagai sosok wanita yang Geleman, suka menggoda dan lain sebagainya ( dulu belum ada istilah Pelakor) hehe..

Dan era saat ini kata Warung sudah meulai terpinggirkan dengan berdirinya sebuah Cafe yang menjamur,  jadi lebih keren dan dapat diterima masyarakat penjaga Cafe ketimbang penjaga warung, karena (menurutnya) kelasnya sangat berbeda antara Cafe dan Warung padahal sekarang juga banyak Cafe yang memasang lampu warna – warni mengalahkan warung yang minim pencahayaan sehingga kebanyakan menyebutnya sebagai warung remang – remang.

Nah, dari sini dapat disimpulkan bahwa penggunakaan kosakata kasar ternyata juga dapat meminimalisir subuah tindakan yang dianggap tidak terpuji atau bertentangan dengan norma sosial terlebih dalam norma ke Tuhanan.

Semuanya tergantung kepada individu masing –  masing menyikapi fenomena ini, mau mengkonnsumsi ungkapan kasar untuk memerangi sebuah tindakan yang kurang sesuai dengan norma kemasyarakatan, atau dengan kata yang super halus untuk memberikan perlindungan terhadap polah tingkah yang dianggap mencederai nilai dan norma dalam bersosialisasi. [AM/HA]