Menu Click to open Menus
Home » BERITA KIM RONGGOLAWE » Enthung Menjadi Bidikan Para Penikmat Kuliner Ekstrim di Tuban

Enthung Menjadi Bidikan Para Penikmat Kuliner Ekstrim di Tuban

11 Desember 2018 1:44 pm | diplublikasikan oleh |

KIM Ronggolawe – Setelah beberapa hari yang lalu kita dihebohkan dengan adanya ulat kayu jati yang menyebar di berbagai kawasan terutama yang banyak tumbuh lebat pohon kayu jati, kini ulat kayu jati yang dianggap sebagai jenis hewan yang menjijikan, dan kini ulat kayu jati yang telah bermetamorfosis menjadi Pupa (Enthung dala bahasa jawa : Red) menjadi salah satu bidikan para pencari kuliner ekstrim.

Dengan berbekal wadah terbuat dari plastik, puluhan Ibu – ibu dari Desa Margorejo Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban, Selasa (11/12) dengan telatenya menguak serta mengorek dedaunan kering pohon jati di seputaran desa setempat hanya untuk mencari Enthong kayu jati.

Dari pantauan reporter kimronggolawe.com, kegiatan musiman tersebut kerap dilakukanoleh para Ibu – ibu yang doyan dengan olahan Enthung tersebut, salah satunya adalah Endang Supatmi perempuan paruh baya itu mengaku berburu Enthung untuk dikonsumsi sebagai lauk saja, meski ia mendengar bahwa harga Enthung cukup fantastis yakni kisaran Rp. 50 ribu hingga Rp. 60 ribu /kilogramnya.

” Hanya untuk lauk saja, bisa digoreng ataupun ditumis tergantung selera,” kata Endang, disela kesibukanya membolak – balikan dedaunan kayu jati  kering.

Menurut penuturan Endang untuk ukuran kali ini Enthung  berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, pasalnya tahun ini curah hujan tidak terlalu tinggi sehingga mengibatkan ukuran Enthung menjadi kecil – kecil.

” Cukup njlimet carinya soalnya Enthungnya kecil – kecil beda dengan tahun lalu yang agak besar, jadi butuh ketelatenan dan kesabaran,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Harnanik perempuan yang juga menggemari olahan Enthung tersebut, ia mengatakan bahwa sebelum  manyantab Enthung biasanya ia mengkonsumsi obat anti gatal, jaga – jaga supaya tidak alergi setelah mengkonsumsi Enthung.

” Rasanya enak bagi yang suka, tapi bagi yang tidak suka juga tidak akan doyan, soalnya terkadang ada yang tidak tawar , alergi dan biduren,” terang perempuan yang pemilik warung kopi itu.

Menurut penuturan warga pencarian Enthung tersebut kan berakhir ketika telah terjadi hujan lebat, pasalnya dalam kondisi hujan lebat tersebut Enthung akan bermetemorfosis menjadi kupu – kupu. [AM/HA]

 

 

Komentar Facebook