21 April 2021

Bakesbangpol Provinsi Jatim Ajak Generasi Muda Pahami Etika Budaya Politik Dalam Memilih Pemimpin yang Demokratis

KIM Ronggolawe– Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan bersama Bakesbangpol Kabupaten Tuban, di Fave Hotel Tuban, Kamis (14/11).

Kegiatan yang diikuti 100 peserta dari berbagai organisasi di Kabupaten Tuban tersebut mengambil tema: Forum Etika Budaya Politik dalam Upaya Memilih Pemimpin yang Demokratis Bagi Generasi Muda, yang dilaksanakan selama Kamis – Jumat (14-15/11).

Drs. Ec. Jonathan Judianto, MMT, Kepala Bakesbangpol Provinsi Jatim dalam sambutannya menyampaikan, etika politik merupakan aspek penting yang diharapkan bisa menjadi suatu pondasi dalam pesta demokrasi.

“Sehingga tahun depan pesta demokrasi Pilkada 2020 bisa menghasilkan suasana harmonis antar kekuatan sosial politik yang ada demi kepentingan bersama di lingkungan masyarakat,” papar Jonathan.

Lebih jauh pihaknya menekankan berpolitik seharusnya tidak sekedar mencari kemenangan, tetapi harus dipikirkan bagaimana bangsa ini maju, rakyatnya sejahtera, ramah terhadap sesama, damai, tidak ada kekerasan dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Demokrasi yang dibangun dalam dunia perpolitikan saat ini lanjut Jonathan, adalah demokrasi yang bebas nilai yang masih banyak dijumpai ajang transaksional. “Makna dan esensi demokrasi direduksi sebagai merebut kekuasaan. Kedaulatan tidak lagi di tangan rakyat, tetapi di tangan penguasa dan lembaga politik,” imbuhnya.

Sebab, katanya lembaga-lembaga politik bukan lagi merepresentasikan kepentingan rakyat, tetapi merepresentasikan kepentingan kelompok dan golongan.

Untuk itu, menurutnya perlu dibangun demokrasi lokal yang etis serta mampu memberikan pendidikan politik yang cerdas bagi masyarakat lokal. Sebab, demokrasi lokal merupakan penopang demokrasi nasional.

“Generasi muda dan politik adalah dua elemen atau bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan suatu bangsa, karena dari sisi itulah generasi muda dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional,” jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap generasi muda harus berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan.

“Ditegaskan dalam UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan bahwa generasi muda memiliki posisi dan peran yang utama dalam mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang demokratis,” terang Jonathan.

Kemudian, ia berpesan agar mengedepankan politik dalam seluruh prosesnya lebih menyuguhkan pertarungan ide, gagasan, visi dan misi, serta inovasi ketimbang ajang menabur kebencian.

“Terlalu mahal biaya demokrasi kita, bila hanya menjadi arena pertarungan yang tak produktif dan tak menghasilkan kemaslahatan bagi rakyat. Kita mesti mengingat lagi konsep besar demokrasi bahwa kontestasi politik tak boleh hanya berhenti pada upaya meraih kekuasaan, tetapi juga menghasilkan distribusi kesejahteraan,” pungkasnya. [CH/AM]