Maksimalkan Musim Kemarau Petani Ini Raup Jutaan Rupiah Lewat Bibit Cabe

BERITA KIM RONGGOLAWE PERTANIAN

KIM Ronggolawe – Musim kemarau biasanya dijadikan waktu istirahat bagi para petani di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban untuk mengurangi aktifitasnya dalam bercocok tanam, sebagian para petani biasanya hanya menghabiskan waktu luangya untuk menanam benih cabe sembari menunggu musim penghujan tiba.

Seperti halya Ratmi (48) warga Dusun Kajoran Desa Margorejo kecamatan setempat, perempuan paruh baya tersebut sejak tiga bulan lalu sudah mempersiapkan empat tempat persemaian benih cabe yang masing – masing panjangnya sekitar 15 – 20 meter dengan lebar sekitar 90 centimeter.

Bersama dengan suami dan dibantu anaknya ia harus mempersiapkan lahan persemaian mulai dari  pemilihan tempat persemaian, penghalusan tempat persemaian, memberi pupuk kandang, menabur benih cabe hingga menyiraminya dua kali dalam sehari.

” Minimal sehari disiram dua kali pagi dan sore, kalau gak gitu ya mati,” terang Ratmi saat di lokasi persemaian benih cabe Jumat, (27/11).

Ia sengaja membuat persemaian benih cabe itu banyak, pasalnya benih-benih cabe nantinya bakal dijual saat musim hujan tiba sehingga ia bersama keluarga dapat tambahan penghasilan yang kelak bakal ia gunakan sebagai tambahan modal bercocok tanam.

” Ya lumayan mas, dapat tambahan penghasilan juga bisa buat beli pupuk, tapi pupuk sekarang langka jadi tambah susah saja para petani seperti saya,” keluhnya.

Masih dalam penuturan Ratmi, dalam hasil penjualan bibit benih cabe tersebut ia mengaku dapat mengantongi penghasilan kisaran lima jutaan dari jerih payahnya bersama keluarga dalam kurun waktu tiga bulan.

” kalau tahun lalu saya memperoleh Rp. 5 juta dari hasil jual bibit cabe ini, kalau sekarang baru dapat Rp. 1,25 juta soalnya sekarang baru saja mulai musim penghujan, ” imbuhnya.

Dalam sistem penjualanya ia membandrol harga Rp. 50 Ribu hingga Rp. 80 ribu per meter tergantung kwalitas dari pertumbuhan benih cabe tersebut.

” Untuk hari ini saja saya sudah mendapatkan uang Rp. 800 ribu, semoga hujanya lancar agar bibit yang masih tersisa segera habis,” tuturnya.

Namun, tak jarang pula apa yang dilakukan oleh Ratmi dan petani lainya berujung kerugian tenaga, waktu dan lainya karena terkadang benih cabe yang mereka tanam keburu tinggi dan besar sedangkan musim hujan tak kunjung tiba sehingga ia pun harus menjual benih cabe tersebut dengan harga murah.

“Kalau lebih dari tiga bulan kok belum ada hujan, sudah dipastikan kami akan rugi, soalnya bibit sudah terlanjur tinggi, dan para pembeli pun tentunya tidak mau karena batang cabe kalau sudah tinggi, kalau dicabut dan dipindah maka kurang maksimal pertumbuhanya,” pungkasnya. [AM/HA]