Setiajit: Maju Tidaknya Daerah Dipengaruhi Pemimpinnya

BERITA KIM RONGGOLAWE PERISTIWA

KIM Ronggolawe – Maju atau tidaknya suatu daerah, berkembang atau tidaknya daerah sebagian besar dipengaruhi oleh pemimpinnya. Sebab, dengan kekuasaan yang dipegang, seorang pemimpin bisa mendorong kemajuan yang luar biasa bagi daerah yang dipimpinnya.

‘’Dalam teori disebutkan, maju tidaknya suatu negara atau daerah, 60 persen dipengaruhi oleh leadership atau kepemimpinan,’’ ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur Setiajit dalam workshop di kampus Unirow Tuban Sabtu (19/10).

Workshop dengan tema ‘Meneropong Pemimpin Tuban dalam Pilkada 2020’ itu digelar Fakultas Ilmu Politik Unirow. Nara sumber yang dihadirkan adalah tokoh yang menyatakan akan mencalonkan diri dalam pilkada Tuban 2020 tersebut.

Karena itu, Setiajit yang secara tegas menyatakan akan mencalonkan diri menjadi bupati pada pilkada Tuban tahun depan itu berharap warga Tuban tidak salah memilih pemimpin. Harus dilihat kapasitas dan kemampuannya. Termasuk program apa yang ditawarkan pada rakyat.

‘’Hambatan kemajuan sebuah negara atau daerah ada tiga hal yakni kurangnya pimpinan yang visioner, kurangnya sinergi antarkelompok serta kurangnya kebijakan prorakyat,’’ tambahnya.

Visi seorang pemimpin menurut dia sangat penting sebagai pemicu pembangunan dan kemajuan daerahnya. Sedang sinergi sangat diperlukan, sehingga tidak hanya mementingkan atau memperhatikan satu kelompok saja. Sehingga semua persoalan bisa diselesaikan bareng-bareng.

‘’Karena itu jargon saya adalah Tuban Milik Bersama. Artinya tidak boleh ada kelompok tertentu yang merasa paling punya. Tapi milik bersama, maka dimajukan bersama dan hasilnya dinikmati bersama,’’ katanya.

Kabupaten Tuban, ujar mantan Pejabat Bupati Jombang ini, saat ini masih terpuruk kondisinya, karena menjadi daerah termiskin kelima di Jawa Timur. Indek pembangunan manusia (IPM) nya rendah.
IPM di Tuban masih 67,43 yang kalah dengan Bojonegoro yang sudah 67.85. Lamongan sudah 71,97 bahkan Gresik 75,28.

IPM ini juga dipengaruhi rendahnya lama sekolah. Di Tuban rata-rata lama sekolah warganya baru 6,52, padahal Lamongan sudah 7,83, Bojonegoro 11,07. Penduduk dengan angka jaminan kesehatan di Tuban juga hanya 42,92 persen jauh dibanding Bojonegoro yang sampai 94 persen lebih.

‘’Angka kemiskinan Tuban 16,87 persen, sedang Bojonegoro 14,34 persen dan Lamongan 14,42 persen,’’ ungkapnya.

Padahal, pejabat asal Tuban ini menyatakan Tuban punya sumber daya yang luar biasa. Pertanian dan perkebunanannya bagus. Sumber daya alamnya juga luar biasa kaya. Pertambangan juga prospek karena ada posphat, kalsium, silika, minyak, gas dan sebagainya.

‘’Kekayaan itu yang harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat. Harus ada kebijakan yang mendukung kesejahteraan rakyat,’’ sebutnya.

Selain Setiajit hadir juga Agus Maimun ketua Karang Taruna Jawa Timur dan Tri Astuti anggota DPRD Tuban.

Tri Astuti mengatakan, keterwakilan perempuan dan kehadiran perempuan sangat penting dalam ranah politik.

‘’Rendahnya keterwakilan perempuan di politik, karena budaya patriarki masih melekat. Yakni lelaki berkuasa atas perempuan,’’ kata dia.

Sedang Agus Maimun menjelaskan cara memimpin Tuban tidak cukup dengan menawarkan yang tidak rasional. Misalnya punya duit atau tidak. Menurut dia masyarakat harus kritis. Kalau hanya duit ukurannya semua akan repot.

‘’Jangan juga karena identitas, background dan sebagainya yang dijadikan acuan. Tapi pilih pemimpin harus yang punya gagasan,’’ pungkasnya. [CH/AM]